Berita Terbaru dari Bencana Alam Aceh dan Sumatera.
Banjir bandang bukanlah sebuah bencana alam biasa yang mudah ditangani.
Banjir akan mereda dan kembali lagi jika wilayah tersebut tidak memiliki
perubahan dalam menjaga alam. Seperti yang kita alami saat ini, kondisi warga
Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bergitu memprihatinkan. Ketiga pulau
itu mengalami kondisi cuaca ekstrem selama beberapa hari. Tak hanya banjir
sebatas lutut, melainkan banjir yang tingginya hamper menenggelamkan bangunan
rumah satu tingkat, ditambah tanah longsor yang membuat banjir semakin
menjadi-jadi.
Para warga berlari ke sana ke mari mencari tempat untuk bertahan hidup,
rela terpisah dari keluarga. Di tengah hujan yang tak berhenti membiarkan mereka
tenang, perut kosong itu berkali-kali berbunyi.
Di sisi lain, ada yang terseret ombak begitu derasnya. Bencana tak pandang
umur, siapapun bisa tiada bersama ganasnya bencana alam. Hingga pada tanggal 6
Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan laporan
terkait data korban bencana alam di ketiga pulau tersebut.
Jumlah korban meninggal : 883
Jumlah korban hilang : 520
Jumlah korban terluka: 4,2 rb
Menurut pakar UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., banjir
bandang yang membawa kayu-kayu dan sedimen itu tidak bisa dilepaskan dari
kondisi ekologis yang kian menurun. Lahan terbuka di sekitar sungai, ketika air
menaik dan di sekitarnya tidak ada hutan yan mampu menampung rembesan air, maka
tanah pun tak semampu itu untuk membantu menyerap air dengan mudah. Arus deras dari sungai itu menerjang daerah
hunian warga, Bersama dengan hasil tanah yang longsor. Lereng-lereng curam
yang dulunya menahan tanah pun ikut runtuh. Karena, ketika pohon hutan
berkurang, maka seluruh volume air bergerak serentak menuju sungai hingga mempercepat
terjadinya banjir.
Bisa dipastikan, penyebab terjadinya banjir adalah curah hujan tinggi.
Ditambah gundulnya pohon di sekitar, yang mana seharusnya pohon bisa menjadi
pencegah terjadinya bencana tersebut. Pemerintah setempat justru membuat ‘Batik’
berkepanjangan. Mengingat kejadian pada tahun 2013, ketika Zulkifli Hasan masih
menjadi Menteri Kehutanan, ia diwawancarai oleh Harrison Ford untuk sebuah film
documenter lingkungan. Wawancara tersebut menimbulkan kontroversi, lantaran
sikap dan cara Zulkifli menjawab pertanyaan seolah meremehkan dampak dari
kerusakan hutan.
Dari bencana-bencana itulah, mulai detik ini kita bisa mempelajari betapa
pentingnya menjaga alam. Sebagai masyarakat kita bisa mulai dari hal kecil,
seperti menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan. Dan bagi pemerintah
sudah seharusnya memeperbaiki system peresapan air dengan baik, tidak membangun
beton sepenuhnya di sepanjang jalan, tidak melakukan penebangan pohon secara illegal,
mengelola lingkungan dengan baik. Mari, jaga alam seperti kita menjaga diri
sendiri. Satu kesalahan, semua orang bisa merasakannya.
Sumber:
https://news.detik.com/berita/d-8245414/update-bencana-sumatera-867-orang-tewas-pengungsi-capai-835-ribu-warga
https://gis.bnpb.go.id/bansorsumatera2025/
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-urai-penyebab-banjir-bandang-sumatera/
https://bpba.acehprov.go.id/berita/kategori/bencana/banjir-di-16-kabupaten-kota-provinsi-aceh-per-27-november-20759-jiwa-mengungsi-satu-orang-hilang-terseret-arus-banjir
Nama: Fathma Arziqa Putri Sisowyo
NIM: 25031554086
Kelas: 2025D
Mata Kuliah: Literasi Digital
Dosen Pembimbing: Ibu Dinda Galuh Guminta, M.Stat.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar